Next Posting

September 12th, 2006 by inedewi

Next posting will be in http://www.iniaku-indie.blogspot.com/

Bookmark and Share

Married with foreigner

September 7th, 2006 by inedewi

Sejak sebelum menikah dan sesudah menikah dengan si akang tersayang, komentar dari teman-teman, saudara dan kolega2 tentang menikah dengan orang asing/bule/non Indonesia/WNA bermacam-macam. Ngaku sih sebenernya saya alot banget pas mau diajak pacaran dan kemudian menikah, karena saya dari dulu sudah bersumpah serapah ngga berniat punya hubungan khusus (apalagi married, hi…) dengan orang asing termasuk orang Jerman. Tapi karena mungkin kualat dan sudah jodohnya ya akhirnya semua jalan berujung ke si akangku itu lagi. Dia sih berusaha meyakinkan dengan bilang :"Kenapa sih kamu suka membedakan orang, orang asing dan non asing. Padahal Allah aja ngga beda-bedain manusia, yang berbeda kan keimanannya." Runtuhlah akhirnya sudah sumpah serapah saya.

Reaksi tentu saja banyak dan bervariasi. Dari yang terserah sampai menentang berat. Dan akhirnya karena kebulatan tekad dan lobby sana-sini, saya dan si akang bisa juga menikah di catatan sipil Denmark dan ijab kabul di mesjid Duesseldorf Agustus tahun lalu (Ye…kita udah satu tahun menikah, lho….). Saya dapat hadiah dari si Akang tas laptop pas anniversary, tapi agak ngiri sama pak Edi kolega kita di kampus yang kebetulan merayakan anniversary pada bulan yang sama tapi tanggalnya duluan kita, yang memberikan hadiah laptop baru pada istrinya. Si Akang pas disindir-sindir cuman bilang, "iya nanti juga aku kadoin itu juga kok kalau kita udah 12 tahun menikah." (pak Edi merayakan anniversary yang ke-12, Red.) Wah, masih lama duong….

Saya dan si akang termasuk rada-rada gak gaul dan pendiam ;) dan jarang ikut pengajian orang Indo karena biasanya si akang suka rada protes karena ngga ngerti ceramahnya dan saya suka rada males nerjemahin  karena kecepatan penterjemahan terutama masalah agama saya yang masih dibawah rata-rata. Kapan itu, kita pergi pengajian ke rumah mixed couple (suami Jerman-istri Indo). Yang bawain ceramahnya kang Shariman (orang Malaysia) dalam 2 bahasa Indonesia dan Jerman. Pas kita-kita lagi wudhu, bapak-bapak wudhu di ruangan atas, sedangkan ibu-ibu wudhu di bawah. Ibu yang punya rumah.. turun dari lantai atas kemudian bertanya pada ibu-ibu:

" Itu yang orang asing wudhu di atas suaminya siapa ya???" (maksudnya tentunya si akang, soalnya dia yang satu2nya Jerman disana selain suaminya ibu nyonya rumah tersebut).

Mau tidak mau saya harus mengaku juga sih,

" Eh itu suami saya, bu. Tapi bukannya suami ibu juga sama orang asing??????" Towewew..! Istri orang asing aja tetap membedakan orang asing kok. Saya juga masih. Saya masih sering bilang ke teman saya, eh artis ini nikah sama bule loh. Aneh kan? Pas saya ketawa-ketawa dan bilang sama si akang pas udah di rumah, dia cuman senyum-senyum mesem sambil bilang kira-kira begini: "Wieso kann ich ein Auslander in mein Vaterland sein?" (meaning: kok bisa saya orang asing di tanah air sendiri?) Iya juga sih.

Tapi yang paling mengesankan saya itu reaksi dari sepupu kecil saya Ifa umur 4 tahun. Pas pulang ke Bandung 3 bulan lalu saya kan menginap di rumah nenek saya selama 2 minggu, yang juga ditinggali oleh Ifa. Komentar dia sangat polos mengenai si akang:

" Teh Ine, teh Ine… kok kang Arnulf ngomongnya kayak orang bule ya…"

Oalah, bocah masih polos… belum tahu ya…. ;)

Bookmark and Share

Ramadhan abroad

September 7th, 2006 by inedewi

Hanya sekitar 17 hari lagi menjelang bulan Ramadhan. Sedikit panik mengingat batal puasa tahun kemarin belum sempat terbayar semua, ups…. Saya dan si Akang sibuk browsing jadwal sahur dan buka untuk bulan Ramadhan tahun ini di www.islam.de. Dan surprise…, untuk hari pertama puasa, shubuh pukul 05.26 waktu Duesseldorf dan buka pukul 19.34. Agak runtuh sedikit ketabahan. Ya, kok malam banget sih ya. Tahun lalu maghrib masih agak siangan sekitar jam 6 sore-an. Apalagi puasa tahun 2003 pas pertama datang ke Jerman, maghribnya sekitar jam 5-an. Bonus banget deh. Tapi memang wajar karena setiap tahun bulan Ramadhan biasanya datang sekitar 1 bulan lebih cepat. Tahun Hijriah kan memang lebih pendek daripada tahun Masehi. Dan di negara Eropa, bulan puasa geser-geser terus dari winter bergeser ke summer, nanti bergeser lagi ke winter. Durasi lama berpuasa juga berubah-rubah kentara. Tentu saja durasi puasa pada saat summer lebih lama. Cuman yang nakutin saya, berarti tahun 2008 puasa Ramadhan kemungkinan jatuh pada bulan Juli, pas panas-panasnya summer. Panasnya Jakarta dan Surabaya aja kalah deh. Dan shubuh bisa sekitar pukul 3-an pagi dan maghrib pukul 10-an malem. Busettttt…..

Tanya-punya tanya, sama kolega Mesir di kampus, orang Indonesia yang kemampuan agamanya jauh lebih tinggi dan ngga bisa lah dibandingkan sama saya yang masih cuetek ini. Ternyata ada 2 pendapat:

1. Puasa harus tetap dijalani sesuai dengan jam shubuh dan maghrib setempat biarpun waktunya ekstrim. Kalau benar-benar tidak kuat atau sakit (tapi tidak direncanakan lho) terpaksa batal, harus membayar fidyah dan mengganti puasa sesuai dengan surat Al-Baqarah ayat 184:

"Fasting for a fixed number of days; but if any of you is ill, or on a journey, the prescribed number (should be made up) from days later. For those who can do it (with hardship), is a ransom, the feeding of one that is indigent. But he that will give more, of his own free will,- it is better for him. And it is better for you that you fast, if you only know.."  (mohon maaf, saya tidak tahu Al-quran terjemahan bahasa Indonesia saya ada dimana. Yang ada cuman terjemahan bahasa inggris dan jerman).

Tapi mereka juga berkata bahwa agama itu tidak untuk mempersulit. Jadi kalau benar-benar tidak kuat, ya tidak apa-apa asalkan tentusaja dibayar kemudian.

2. Ada beberapa orang mengatakan apabila waktu shubuh dan maghrib di suatu tempat sangat ekstrim (kayak di kutub mungkin) sehingga ditakutkan bisa mengganggu kesehatan, sehingga waktu sahur dan buka puasa bisa mengikuti waktu sahur dan buka puasa di Arab Saudi. Orang-orang ini berpendapat bahwa agama itu tidak untuk menyulitkan.

3. Kalau kata saya nih yang keimanannya masih naik-turun (tapi banyak turunnya sih, sigh…) saya sih jujur berharap (sambil malu tea…) pendapat yang kedua benar tapi saya ingin tahu juga sebenarnya kita harus ngikutin yang mana. Kalau sebaliknya pendapat yang pertama yang benar. Solusinya… nanti tahun 2008 pas puasa saya mau pulang kampung aja ke Bandung …. beres kan masalahnya ;)

Bookmark and Share

Lain padang lain belalang

April 27th, 2006 by inedewi

Hari ini saya teringat pas pertama kali menginjakkan kaki di Jerman. Pokoknya tekad sudah dibulatkan, kalaupun harus sengsara di negara orang harus dijalani deh pokoknya. Jadi meskipun semua orang menyarankan supaya saya membawa rice cooker ke Jerman. Saya tidak membawanya, dengan tekad akan beradaptasi dengan makanan apa saja yang ada di Jerman (but exception for pork, of course). Dan hasilnya 3 bulan saya kurus kering, sengsara dan menderita… sampai ada orang Indo yang berbaik hati memberikan saya sebuah rice cooker yang sampai sekarang masih dipakai tuh. Meskipun udah kumuh dan ada nama pemilik yang dulu tertulis besar-besar di rice cooker kesayangan saya itu. Pak Chaidir. ;) Terima kasih ya, Pak…. kalau bukan karena rice cooker Bapak, saya sekarang jadi kurus kering.

Begitu selesai kursus bahasa selama dua bulan di Frankfurt, bulan Desember 2003 saya pindah ke Duesseldorf untuk mulai mengikuti program studi saya. Semua hal membuat saya frustasi, karena tidak bisa langsung bekerja di lab terutama. Sebelum bisa bekerja, karena akan masuk lab Mikrobiologi saya harus mengikuti tes kesehatan selama setengah hari di lab klinik yang berada di kampus. Jangan salah, dari institut saya harus berjalan sekitar 20 menit untuk mencapai klinik itu. Karena appointment saya jam 7.30 dan saya takut salah jalan (maklum anak baru). Dari rumah saya sudah pergi dari jam 6.30 dan masih gelap karena pada saat itu musim dingin.

Disana saya harus mengikuti tes kapasitas paru-paru, pemeriksaan darah lengkap, dan juga pemeriksaan sampel urine, yang sialnya meski setelah setengah jam lebih saya berdiam di toilet, saya tidak berhasil mendapatkan sampel itu. Sehingga saya harus pergi lagi ke klinik ini keesokkan paginya. Selain semua test itu, karena dulu pada saat di Indonesia saya bekerja juga dengan sampel darah dan jaringan manusia lainnya, saya dianjurkan untuk memeriksakan juga darah saya untuk tes hepatitis komplit (A, B dan C) dan juga tes HIV.

Setelah setahun (karena saya mendapatkan hasil itu bulan Januari) satu persatu hasil tes itu mulai berdatangan melalui pos, dan saya mulai merasa senang karena akhirnya saya bisa mulai bekerja di lab. Biasanya sih tidak sampai sebulan, hasil itu sudah selesai. Tapi dalam kasus saya sangat lama karena terpotong liburan natal dan tahun baru. Alhamdulillah hepatitis C negatif. Dan hasil semua tes lainnya ok, terutama tes kapasitas paru-paru yang saya takuti. Tetapi tes HIV saya tidak juga datang-. Tanya punya tanya, ternyata tes HIV itu sangat CONFIDENTIAL alias sangat rahasia. Tidak boleh lewat pos, lewat telefonpun tidak boleh. Dan pada saat saya telefon, resepsionis di klinik itu berkata kalau saya harus membawa semua tanda pengenal saya (pasport, kartu mahasiswa dan lain sebagainya) dan langsung datang ke klinik tersebut. Agak aneh juga ya, tapi mungkin kerahasiaan tes HIV di Jerman jauh lebih tinggi daripada di Indonesia. Dan bukankah lain tempat, lain kebiasaannya. Ok, saya datang dengan semua tanda pengenal saya meskipun klinik itu amit-amit jauhnya.

Setelah menyerahkan tanda-tanda pengenal kepada resepsionis atau perawat di klinik tersebut. Dia mulai mencari hasil tes HIV saya. Saya sudah membayangkan bahwa tes HIV itu berada didalam amplop yang disegel atau dilakban entah beberapa kali. Atau mungkin juga setelah dibaca akan meledak seperti di mission impossible (wah, kayaknya saya mulai melebih-lebihkan ya).  Setelah mencari didalam sebuah folder tebal, perawat itu bertanya,

” Frau XY?” dia nanya

” Ja. “  Jawabku sambil menanti amplop bersegel lima itu.

“NEGATIF!” katanya

Sementara saya masih terlongo-longo tidak percaya. Bukan karena saya tidak menyangka hasil saya negatif, tapi karena saya menanti amplop mission impossible saya itu.Tidak ada amplop, tidak ada surat. Hanya pernyataan hasil yang diteriakkan.

“Ist alles in Ordnung?” (semuanya ok?) Si perawat itu nanya.

“Erg, mhm, Ja” Jawabku.

Oalah, kirain di Jerman hasil tes bakalan disegel atau dikemas kayak apa. Karena ngambilnya susah begitu, harus pakai surat2 komplit. Ternyata begitu doang.  Bukannya saya protes atau merendahkan, teman. Tapi benar deh peribahasa lain padang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya.

Bookmark and Share

To where you are

April 23rd, 2006 by inedewi

I dedicate this song for my dreams which haunt me more than eight years. And I know exactly that they still keep coming back.

To Where You Are
Who can say for certain
Maybe you’re still here
I feel you all around me
Your memories so clear

Deep in the stillness
I can hear you speak
You’re still an inspiration
Can it be (? )
That you are mine
Forever love
And you are watching over me from up above

Fly me up to where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile to know you’re there
A breath away’s not far
To where you are

Are you gently sleeping
Here inside my dream
And isn’t faith believing
All power can’t be seen

As my heart holds you
Just one beat away
I cherish all you gave me everyday
’cause you are mine
Forever love
Watching me from up above

And I believe
That angels breathe
And that love will live on and never leave

Fly me up
To where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile
To know you’re there
A breath away’s not far
To where you are

I know you’re there
A breath away’s not far
To where you are

Bookmark and Share

Manusia itu sama saja

April 20th, 2006 by inedewi

Pembimbingku (orang Jerman) sering sekali pergi ke Indonesia. Terutama sih karena urusan dinas. Dia salah satu member DAAD buat  di Indo. Dia pergi ke Indo setiap tahun dua sampai tiga kali, biasanya sih buat seleksi dll. Sampai sirik yang jadi anak bimbingnya deh. Aku belum tentu bisa pulang setahun sekali.

Dia pecinta buah-buahan tropik. Favoritnya durian, juga hampir semua jenis mangga dan pisang, manggis, duku, rambutan, nangka, lengkeng dsb. Tapi dia paling maniak dengan durian. Trip terakhir dia ngasih oleh-oleh buatku dan suami, dua buah mangga arumanis. Bukan main senangnya aku waktu itu. You don´t know how something means a lot for you until you loose it. You can say that the mango means for me.

Dan dia juga sering jalan-jalan di Indo, bahkan ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi. Sebenarnya dulu itu aku puritan dan ngga pernah jalan-jalan di Indonesia. Sekarang menyesal juga, aku bahkan belum pernah ke Bromo. Belum pernah jalan ke luar pulau Jawa kecuali ke Bali (itu pun hanya satu kali dan sangat singkat). Dia sering memuji keindahan tempat-tempat di Indonesia.

Tapi tidak enaknya terkadang dia (karena tahu banyak tentang Indonesia) jadi sering berdebat denganku masalah di Indonesia terutama soal pornografi dan pembajakan (piracy) VCD dan DVD. Terkadang aku tahu itu salah, tapi bagaimana ya right is wrong It is my country. Kadang dia mempertanyakan apa di Indo ada original VCD or DVD, sampai aku harus membawa VCD Finding Nemo-ku yang dibeli di Indonesia dan kebetulan original (hehe..) untuk membuktikan di Indonesia ada VCD/DVD original kok asal tahu belinya dimana. Dan kita sampai berdebat panjang… banget soal originality. Sampai akhirnya aku capek juga dan akhirnya bertanya sama dia, " Anyway, R##### (namanya), did you buy the piracy DVD/VCD  in Indonesia or not? And if you want to buy the original one why on earth you went to Glodok? You should go somewhere else" . Dan dia dengan malu-malu menjawab… iya gue beli lima. Empat film bagus kok gambarnya, tapi film yang kelima banyak siluet kepala orang dan tiba-tiba ada suara batuk-batuk. ;)

Kesadaran tiba-tiba menyeruak. Sebenarnya tidak di Indonesia, di Jerman, di Cina, di mana-mana manusia itu sama saja. Ada yang baik, ada yang tidak. Ada yang menghargai copyright, property right or any other rights, ada yang tidak peduli. Di Jerman atau di negara Eropa lainnya mungkin tidak ada barang bajakan. Tapi bukan berarti mereka semua menghargai copyright, tapi karena hukuman dari pemerintah mengenai barang bajakan biasanya sangat keras dan benar-benar diberlakukan. Buktinya begitu mereka melancong ke negara lain, kadang mereka beli juga kok barang bajakan.  I don´t want to blame everything to Indonesian government, really. Mereka juga punya peraturan dan undang-undang, sayangnya banyak yang melunak karena sogokan.

Tapi mengenai masalah pornografi, aku tidak bisa mendebat banyak. Karena memang begitu keadaannya. Pembimbingku itu pernah mengadakan short trip ke Glodok pakai busway. Dan dia bilang a whole street full of porn movies and you said that your country is biggest moslem country in the world. Aku juga sebenarnya malu tentang hal itu. Dan itu semua orang lalu-lalang memang bisa melihat dan membeli (kalau berminat) bahkan anak SD dan SMP. Dan dia juga bilang ada suami istri kebetulan (tidak tahu ini apa benar2 kebetulan, atau?) lewat, si penjualnya itu ngga peduli… dia menawarkan ke sang suami dengan terang-terangan tanpa merasa jengah pada sang istri dengan kode, "pst, pst, pst….".

So if you ask my opinion about the demonstrations against playboy magazine in Indonesia or whether I agree about launching of playboy magazine in Indonesia. Aku cuman pengen bilang, bersihin dulu tuh di Glodok sono…. . Tapi aku sudah lama tidak pulang, siapa tahu sekarang Glodok sudah bersih. Amien.

Tapi pembimbingku ini terus-terusan ngajak berdebat soal fornografi ini. Kadang aku jadi kesal juga tapi tidak tahu harus menjawab apa. Satu hari dia tanya… Ine do you think it is a kind of hipocrite because you know that in the flight to Indonesia, you’ve got a flier from Indonesian immigration which states that you cannot bring any pornography things to Indonesia….

Dan aku cuman menjawab lemas…. the answer is so simple, R##### (namanya)… because we´ve already had enough!"

Maafkan, teman. Aku sebenarnya ingin menjawab lebih baik lagi to defend my country of course. Tapi aku tidak tahu mesti menjawab apa…. Ada usul?

PS.

But, please do not hate him. He is actually a kind and fine man. He is just only curious about Indonesia. If you still want to hate him, can you wait a bit until I graduate? ;)

Bookmark and Share

April 4th, 2006 by inedewi

Why writing a dissertation is hopeless in comparison with having a baby

  1. 3 months before your due date, your doctor doesn’t say, "I want you to go back and re-do the first trimester’s work."
  2. Unlike advisors, you can switch doctors without starting over.
  3. Conceiving a baby is WAY more fun than conceiving a topic.
  4. You know exactly how long pregnancy takes.
  5. Friends and relatives don’t question the worth of a baby.
  6. You don’t need to explain repeatedly to friends and family what it takes to make a baby and why you’re not through yet.
  7. No one will make you get an advanced degree before having a baby.
  8. Everyone will say your baby is cute and you’ll believe them.
  9. Babies don’t require proper footnoting or adherence to style manual.
  10. You can freely borrow other people’s stuff if you’re having a baby; if you’re writing a dissertation, that’s called plagiarism.
  11. No one will complain that your baby is too similar to another one.
  12. No matter how much trouble, some people will gladly have more than one baby.
  13. You do not have to present your baby before it is born. But:
  14. For having a baby you often need a docter, while by writing a dissertation you become a doctor.
  15. When the dissertation is written the hard work is done, but when the baby is born it has just started.
  16. 15 is obviously the statement of someone who hasn’t finished yet.

Oh, I really want to have a baby. At least I know the baby is worth than anything including a doctor title (while the biological clock is ringing).

http://www.zuv.unibas.ch/chancengleichheit/garten/humor.html#baby

Bookmark and Share

April 4th, 2006 by inedewi

What is the friendship all about?

Friendship is taking and giving, a form of relationship

with whom you are not afraid to show who you exactly are

with whom you are not afraid to say something wrong

with whom you are not afraid to be snapped or to be refused

with whom you can express yourself without being afraid

with whom you share the time, giggle about funny stories, and even gossips

with whom you can tell your worries, your sadness, your happiness,

even your dream without being asked

Friendship never counts how many good deeds or things

the one did for the other

Friendship never calculates how many faults or mistakes

the other did

In friendship it is never a matter, about the distance,

time difference, social status, even education level

In friendship you can spin your life together sometimes

But you also can spin your life alone without feeling guilty

In friendship you can share your day but  you are also able to give some space

In friendship you can be yourself, but still with some tolerance

You should not hurt your friends so many times in the name of friendship

You should not treat your friend the worst ever

because they will accept you no matter how you treat them

or just because you want to be yourself

Later they will try to get away from you

not because they do not love you as friend

but because they do not want to be hurt anymore

You can not be an angel for everybody

but for your friend you can be as mean and rude as you want

Because it means that everybody is above your friend

Because it means that your friend is not important at all

Unfortunately still so many people misunderstand it

Bookmark and Share

Tanah air beta

March 31st, 2006 by inedewi

What I miss most from Indonesia:

1. Jajanannya tentu, kalau makanan mungkin tidak begitu karena bisa bikin sendiri browsing resep dari keluarga Nugraha. Tapi jajanan, wah jakarta dan bandung itu benar-benar surga makanan untuk orang yang demen jajan.                               Di Bandung, ada bubur ayam mang Oyo, lomie Boromeus, kupat tahu Gempol, Bakso Akung, batagor Riri, kingsley, Darto, mie ayam Sakinah, belum lumpia basah (pakai gerobak yang didorong-dorong. Kalau beli dikasih sumpit sepasang), segala jenis nasi-nasian di lumpia semarang CiungWanara, mie goreng jalan Mangga, yoghurt Cisangkuy (siapa bilang yoghurt jerman lebih enak?), serabi juga di Cisangkuy, pempek jalan Rama, sate padang di Dipati Ukur, bakso tikus Pasteur (ternyata tikus enak juga loh, hehehe.. baksonya gede banget dan pernah digosipin dari daging tikus. Komentarku waktu itu cuman … ternyata tikus enak juga ya.. . Tapi kalo kataku sih itu gosip banget deh. Ngga beneran), indomie (sebenarnya di Jerman indomie juga ada, tapi perasaan beda deh rasanya kalau makan di Indonesia), jajanan pasar di toko kue merdeka, sus merdeka tentunya, pisang mollen, jajanan SD di SD mana saja (uh, enak-enak dan murah, tapi mesti saingan dengan anak SD tentunya).    

DiJakarta ada bubur Menteng (yang makannya bisa di mobil), mie bloon, nasi gila di Menteng, bakmi ayam GM, konro bakarnya Daeng Tata, siomay di statsiun Cikini, ayam goreng Megaria, ayam Suharti (di Bandung juga ada sih),  sup buntut di TMII dan banyak lagi. Ih kayaknya aku rada SM gitu ya, senang menyiksa diri sendiri.

2. Lagu-lagu Indonesia, dari mulai yang R&B, pop, lagu cengeng sampai dilarang ama menteri, dangdut… apa aja deh. Lagu apa yang lagi terkenal di Indonesia sekarang ini ya?

3. Buku-buku karya pengarang Indonesia, mulai dari Mira W, Marga T, V Lestari dan sebagainya

4. Majalah dan tabloid Indonesia, aneh tapi ngangenin. Kangen deh bisa baca femina, Nova, cita cinta, Sedap sekejap, Sedap Sekejap rasa pemula, Asri, majalah komputer pakai bahasa Indonesia, Tabloid rumah, bahkan Trubus pun aku kangen.

5. Orang-orang Indonesia, betapa rindunya diriku ini apabila bisa berbicara normal kembali tanpa lidah harus melilit-lilit karena dipaksakan untuk berbicara bahasa Jerman mending kalau yang diajak bicara mengerti. I have to learn differensiating between Brüste (brush) and Bürste (breast). Kebayang kan kejadiannya pas kedua kata ini tertukar di supermarket atau lebih parah lagi didepan ibu mertua. Atau alkoholfrei Sekt (alcohol free champagne) dan alcoholfrei Sex (alcohol free ..ups…). Itu juga sekali kejadian tertukar pronounciationnya dan memalukan sekali deh karena semua orang meledak tertawa.

What I hate most if I go to Indonesia

Tiketnya mahal, coy! Bhwa… hiks, hiks….

Pokoknya Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya (jadi nyanyi…)

                                                                           

Bookmark and Share

March 30th, 2006 by inedewi

AFRAID….

I’m afraid of knowing I will never be able to do

all the things I wanted to in my life.

My only life…

I’m afraid of not being able to take life for granted.

Afraid of not being able to laugh.

To cry.  To make jokes. To be in love.  To feel.

I’m afraid of realizing I never said, "goodbye" after it’s too late.

I’m afraid one day I will go to sleep

and not see the sunrise the next morning,

or ever again.

I’m afraid of not being here one day.

I’m afraid of living…

I am afraid of death.

I’m afraid of change.

Afraid things will never be the same.

I’m afraid of moving on.

Afraid of leaving people behind

Afraid of leaving memories,

thoughts,

and dreams in the past.

I am afraid of forgetting the people

who once meant so much to me.

I’m afraid of finding myself,

Afraid I won’t like what I find.

Afraid I will be like them, and not myself.

I am afraid to be who I want to be,

Afraid to be who I am.

Afraid to be myself.

Afraid of actually worrying

about what others think.

I’m afraid I will change,

Afraid I will no longer be different.

I’m afraid of the unknown,

Afraid of never really knowing,

Afraid of forever wondering.

I’m afraid of not knowing what is going to happen,

Afraid of what the future holds.

I’m afraid of always wondering….

What would have happened?

What if ???

I’m afraid of being alone,

Afraid that I will have no one to turn to.

I’m afraid of loving sometimes,

Afraid I won’t be loved back.

Afraid of getting hurt.

I’m afraid that if my heart gets broken anymore,

I wont be able to fix it and go on.

I’m afraid of losing people,

Afraid they will all be gone one day.

I’m afraid to screw up,

Afraid I will lose my love…

Forever.

I’m afraid people won’t like me,

Afraid they will abandon me, refuse me, and reject me

I’m afraid that they will hate me with some reasons I don’t know

Afraid they even can hate me without any reason at all

I’m afraid that somehow they will find out

That I am not as smart as they think, not as charm as they feel at first

I’m afraid that I don’t have anything to be proud of

Afraid to realize that I am nothing special, only an ordinary and very plain girl

I’m afraid I hurt people without realizing it

Afraid at that time I just tell bad jokes which make irreparable pain

I’m afraid that I’m too scared to get along with people

I am worried to much so perhaps I decide not to do anything with them and I have to be alone all the time

I’m afraid to be lonely somehow

I’m afraid I will end up alone without anyone care about me

Afraid at that time there will be no one loves me

And I will just fade away like a plant in the Fall but never have a chance to meet the Autumn for flowering once more

I’m afraid being forgotten by people

Founded by browsing in internet and freely edited by Ine

Bookmark and Share